Karya Tulis

PEDOMAN PENULISAN JURNAL PENGEMBANGAN PROFESI
LPMP JAWA BARAT

A. Ketentuan

  1. Artikel yang ditulis dalam Jurnal Pengembangan Profesi, LPMP Jawa Barat meliputi hasil penelitian tindakan kelas yang merupakan tindakan nyata pendidik dan atau tenaga kependidikan dalam proses pembelajaran yang menjabarkan salah satu Kompetensi Dasar (KD) dalam proses pembelajaran melalui suatu metoda pembelajaran sehingga menghasilkan peningkatan dalam hasil evaluasi pembelajaran.
  2. Artikel tersebut belum pernah dimuat pada media lain.
  3. Jenis tulisan Arial 12.
  4. Jumlah halaman berkisar antara 15-20 halaman dengan jarak 1,5 spasi.

B. Sistematika Penulisan


a. Judul

Judul hendaknya singkat dan padat, dengan jumlah kata antara 8-12 mencerminkan isi yang inovatif, mutakhir, menarik, mengandung permasalahan dan solusi.

b. Penulis

Dituliskan nama dan alamat lembaga serta alamat e-mail dan nomor telepon atau handphone untuk memudahkan komunikasi.
c. Abstrak

Abstrak berisi pernyataan ringkas dan padat tentang isi yang esensial. Abstrak memuat masalah metode penelitian, dan hasil penelitian. Hal-hal lain seperti hipotesis, pembahasan dan saran tidak disajikan. Abstrak ditulis dalam Bahasa Indonesia terdiri atas 75-150 kata, dalam satu paragraf serta satu spasi dengan marjin kanan dan kiri menjorok masuk 1,2 cm.
d. Kata Kunci

Kata kunci adalah kata pokok yang menggambarkan daerah masalah yang teliti atau istilah-istilah yang merupakan dasar pemikiran, gagasan dalam karangan asli dapat berupa kata tunggal atau gabungan kata. Jumlah kata 3-5. Kata kunci diperlukan untuk komputerasi dalam manajemen sistem informasi yang berkenaan memfasilitasi pencarian judul-judul penelitian beserta abstraknya dengan mudah.
e. Pendahuluan

Bagian ini menyajikan kajian pustaka yang berisi paling sedikit tiga gagasan: 1. Latar belakang atau rasional penelitian, 2. Masalah dan rencana pemecahan masalah dan 3. Rumusan tujuan penelitian (dan harapan tentang manfaat hasil penelitian). Sebagai kajian pustaka, bagian ini harus disertai rujukan yang bisa dijamin otoritas penulisnya. Jumlah rujukan harus proporsional. Pembahasan keputusan harus disajikan secara ringkas, padat, dan langsung mengenai masalah yang diteliti. Aspek yang dibahas dapat mencakup landasan teorinya, segi historisnya atau segi lainya. Penyajian latar belakang atau rasional penelitian yang dilengkapi dengan rencana pemecahan masalah.


f. Metode

Bagian ini menyajikan bagaimana penelitian ini dilakukan. Uraian disajikan dalam beberapa paragraf tanpa sebagian, atau dipilih-pilih menjadi beberapa sebagian. Metode hanya memuat hal-hal pokok saja, uraian rinci tentang rancangan penelitian tidak perlu disajikan.

Materi pokok bagan ini adalah apa instrument digunakan ,bagaimana data dikumpulkan, siapa sumber data (populasi dan sample objek), dan bagaimana data dianalisis. Uraian bagian ini antara lain berisi keterangan tentang populasi dan sampel, instrument pengumpulan data, rancangan penelitian, dan teknis analisis data. Penelitian yang menggunakan alat dan bahan perlu ditulis spesifikasinya. Spesifikasi alat menggambarkan tingkat akurasinya, sedangkan spesifikasi bahan diberikan karena penelitian ulang bisa berbeda dari penelitian sebelumnya apabila spesifikasi sebelum apabila spesifikasi bahan yang digunakan berbeda.

Untuk penelitian kualitatif perlu ditambahkan uraian mengenai data kehadiran peneliti, subjek peneliti dan informasi beserta cara-cara menggali data penelitian, lokasi penelitian, dan lama penelitian.

g. Hasil

Bagian hasil merupakan bagian utama artikel ilmiah, oleh karena itu biasanya merupakan bagian terpanjang. Bagian ini menyajikan hasil-hasil analisis data; yang dilaporkan adalah hasil bersih. Proses analisis data dan pengujian hipotesis tidak perlu disajikan. Yang perlu dilaporkan adalah hasil analisis dan hasil pengujian hipotesis. Hasil analisis boleh disajikan dalam bentuk tabel/grafik. Table/grafik harus disertai interpretasi untuk memperjelas penyajian hasil secara jelas. Apabila hasil yang disajikan cukup panjang dapat dipilih menjadi subbagian sesuai dengan penjabaran masalah dalam penelitian.


h. Pembahasan

Bagian ini merupakan bagian terpenting dari keseluruhan isi artikel ilmiah. Tujuan pembahasan untuk: 1. Menafsirkan temuan-temuan, 2. Mengkonfirmasikan temuan dengan teori/temuan sebelumnya yang relevan, 3. Mengintegrasikan temuan penelitian kedalam kumpulan pengetahuan yang telah mapan, dan 4. Menyusun teori baru atau memodifikasi teori yang ada.

Penafsiran terhadap temuan dilakukan dengan menggunakan logika dan teori-teori yang ada. Temuan diintegrasikan kedalam kumpulan pengetahuan yang sudah ada dengan membandingkan temuan yang dapat dengan temuan sebelumnya, atau dengan teori yang ada, atau dengan kenyataan di lapangan. Pembandingan harus disertai rujukan. Jika penelitian ini menelaah teori, teori yang lama dapat dikonfirmasikan atau digugurkan, sebagian atau seluruhnya. Penolakan sebagian dari teori haruslah disertai modifikasi teori, dan penolakan terhadap seluruh teori haruslah disertai dengan perumusan teori baru. Untuk penelitian kualitatif bagian ini dapat pula membuat ide-ide penelitian, keterkaitan antara kategori-kategori dan dimensi-dimensi serta posisi temuan atau penelitian terhadap temuan dan teori sebelumnya.
i. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan menyajikan rumusan, esensi secara kualitatif berdasarkan hasil dan pembahasan. Simpulan disajikan dalam bentuk esai, bukan dalam bentuk numerikal, dan mengacu pada butir-butir rumusan masalah.

Saran disusun berdasarkan simpulan. Saran dapat mengacu pada tindakan praktis, atau pengembangan teoretis, dan penelitian lanjut. Bagian saran dapat berdiri sendiri. Gabungan simpulan dan saran dapat juga disebut penutup.
j. Daftar Rujukan

Daftar rujukan harus lengkap dan sesuai dengan rujukan yang ada di tubuh artikel ilmiah. Bahan rujukan yang dimasukan dalam daftar rujukan harus dirujuk dalam tubuh artikel dan sebaliknya.

Daftar rujukan pada umumnya ditulis dengan ketentuan nama penulis, tahun penerbitan, judul terbitan, kota penerbit, dan penerbit, serta disusun menurut abjad. Kalau penulis dengan satu unsur nama penulisnya ditulis lengkap, kalau dengan dua unsur nama ditulis hanya nama terakhir tanpa memperhatikan nama famili, marga atau orang tua. Gelar akademis dan lainnya tidak perlu dicantumkan.

Sumber rujukan dengan lebih dari dua orang penulis, penulisan daftar rujukannya tetap ditulis semua, tidak boleh hanya dengan dkk. Sedangkan penulisan nama pengarang tetap digunakan prinsip nama akhir, nama awal, dan nama tengah.
Contoh :
(1) Pengarang Satu Orang

Mukhadis, A. 1996. Statistik Nonparametrik dalam Penelitian pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional

(2) Pengarang lebih dari satu orang

Mukhadis, A. & Ulfatin, N. 2005. Penelitian Kualitatif : Teori dan aplikasinya. Malang:UM Pres


Sumber :
Pedoman Penulisan/KTI Kegiatan Nyata 2008 Dirjen PMPTK

Conto PTK, dina Jurnal LPMP Jabar :

PEMBELAJARAN AKTIVITAS JUAL BELI DI PASAR SETEMPAT

(Penelitian Tindakan Kelas di SD Negeri Curug Bitung 01 Kelas VI)

Prosedur penelitian tindakan kelas terhadap pembelajaran aktivitas jual beli di pasar setempat dengan menerapkan model pengalaman nyata dilakukan oleh peneliti sampai dua siklus. Dalam setiap siklus terdapat empat fase yaitu (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar aktivitas jual beli di pasar setempat melalui model belajar pengalaman nyata. Fase-fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sedangkan fase-fase pada siklus kedua dirancang dari hasil refleksi siklus pertama. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan teknik tes. Hasil observasi ditemukan beberapa peningkatan keberanian dan keterampilan bertanya jawab ketika mereka ditugasi untuk melakukan wawancara untuk mencari data cara bersaing secara sehat. Telah terjadi peningkatan keterampilan mengobservasi ketika mereka ditugasi untuk mencari data proses transaksi jual beli. Peningkatan-peningkatan tersebut merupakan peningkatan hasil belajar.
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Kemampuan mendeskripsikan aktivitas jual beli di pasar setempat adalah salah satu kompetensi dasar (KD) yang harus dicapai dikuasai oleh siswa sekolah dasar kelas enam. Pembelajaran aktivitas jual beli di pasar setempat sangat bermanfaat bagi siswa. Selain sebagai dasar untuk mempelajari komptensi dasar berikutnya, juga bermanfaat sebagai bekal hidup di kemudian hari menjadi pedagang atau pengusaha.
Pembelajaran aktivitas jual beli di pasar setempat merupakan proses pembelajaran yang realistik. Sebab, aktivitas jual beli merupakan aktivitas siswa sehari-hari. Pada setiap hari siswa selalu melakukan aktivitas tersebut baik dilakukan siswa di sekitar lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Aktivitas jual beli merupakan salah satu pengalaman nyata siswa. Salah satu pengalaman nyata siswa tentang aktivitas jual beli adalah jual beli beras, lauk pauk, dan sayur mayur. Karena jenis-jenis barang tersebut pada setiap harinya dibeli oleh siswa bersama ibunya di pasar atau warung setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

2. Masalah dan Rencana Pemecahan Masalah
Dalam pembelajaran sehari-hari yang peneliti lakukan ternyata hasilnya di bawah Kriteria Ketercapaian Minimal (KKM). Hasil refleksi diperoleh data bahwa selama proses pembelajaran para siswa banyak yang mengeluh dan munculnya rasa tidak percaya diri. Mereka merasa sangat kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Ini merupakan gambaran kegagalan proses pembelajaran.

Kegagalan terhadap proses dan hasil belajar tersebut merupakan masalah yang harus segera diatasi. Sebab, aktivitas jual beli di pasar setempat sangat bermanfaat bagi siswa. Selain sebagai dasar untuk mempelajari komptensi dasar berikutnya, juga bermanfaat sebagai bekal di kemudian hari menjadi pedagang atau pengusaha.

Untuk mengatasi kegagalan pembelajaran di atas peneliti akan menggunakan model belajar pengalaman nyata. Model ini merupakan konsep model pembelajaran kontekstual yaitu konsep belajar yang mengaitkan materi yang dipelajari oleh siswa dengan situasi dunia nyata siswa, (Depdiknas, 2002:5). Dengan konsep belajar tersebut peneliti mengaitkan KD dan indikator yang harus dicapai oleh siswa dikaitkan dengan pengalaman siswa. Salah satu pengalaman nyata yang dimiliki siswa adalah jual beli beras, lauk pauk, dan sayur mayur. Karena jenis-jenis barang tersebut pada setiap harinya dibeli oleh ibunya dan kadang-kadang bersamanya di pasar atau warung setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan konsep belajar pengalaman nyata tersebut, maka terjadi penambahan unsur keunggulan daerah dan atau kebutuhan masyarakat pada kompetensi dasar dan indikator. Penambahan unsur pada KD dan indikator di atas merupakan pemenuhan tujuan pendidikan tertentu. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP, 2006:3) menjelaskan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan guru harus memenuhi tujuan pendidikan tertentu meliputi tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan keunggulan daerah dan kebutuhan masyarakat. Tujuan pendidikan nasional dicapai dengan digunakannya Kurikulum 2004 (Permen Diknas, tahun 2006, pasal 2) dan tujuan pendidikan keunggulan daerah dan kebutuhan masyarakat dapat dicapai dengan cara menambahkan atau mengintegrasikannya ke dalam unsur Kurikulum 2004.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kompetensi dasar di atas setelah ditambah dengan keunggulan daerah dan atau kebutuhan masyarakat berubah menjadi mendeskripsikan aktivitas jual beli beras, lauk-pauk, dan sayur-mayur di pasar setempat. Perubahan pada indikator-indikatornya adalah sebagai berikut.

  1. Mengidentifikasi pasar tradisional setempat dan jenis beras, lauk-pauk, dan sayur-mayur yang diperjualbelikan.
  2. Memperagakan proses terjadinya transaksi beras, lauk-pauk, dan sayur-mayur di pasar setempat.
  3. Menjelaskan cara bersaing secara sehat dalam jual beli beras, lauk-pauk, dan sayur-mayur di pasar setempat.
  4. Memberikan contoh bahan baku beras, lauk-pauk, dan sayur-mayur yang diolah menjadi beberapa jenis makanan.

Dengan konsep belajar tersebut, peneliti merasa yakin bahwa proses pembelajaran aktivitas jual beli di pasar setempat akan menjadi lebih bermakna dan hasil belajar akan meningkat secara signifikan.

3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan hasil belajar aktivitas jual beli di pasar setempat melalui model pengalaman nyata.

Harapan yang ingin dicapai dari hasil penelitian ini adalah sebagai bahan diseminasi dalam kegiatan KKG dan bahan diskusi tindak lanjut dengan kepala-kepala sekolah dan para pengawas sekolah kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor tentang bagaimana cara meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran aktivitas jual beli di pasar setempat melalui model pengalaman nyata.

Selain itu, sebagai kontribusi peneliti kepada para siswa tentang bagaimana cara meningkatkan hasil belajar siswa, serta seluruh anggota KKG di tingkat kecamatan dan para pengawas sekolah dan kepala sekolah kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor tentang bagaimana cara meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran aktivitas jual beli di pasar setempat melalui model pengalaman nyata.

B. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas terhadap pembelajaran aktivitas jual beli di pasar setempat dengan menerapkan model pengalaman nyata dilakukan oleh peneliti sampai dua siklus. Dalam setiap siklus terdapat empat fase yaitu (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar aktivitas jual beli di pasar setempat melalui model belajar pengalaman nyata.

Fase-fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sedangkan fase-fase pada siklus kedua dirancang dari hasil refleksi siklus pertama. Berikut ini, peneliti menjelaskan kegiatan yang dilakukan pada setiap fase sebagai berikut.

Kegiatan yang peneliti lakukan dalam merencanakan PTK adalah sebagai berikut. (a) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) aktivitas jual beli di pasar setempat melalui model belajar pengalaman nyata. (b) Membuat pedoman observasi sebagai instrumen untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran. (c) Membuat tugas kelompok yang harus dikerjakan selama proses pembelajaran untuk mengukur tingkat ketercapaian indikator.

Kegiatan melaksanakan PTK adalah melaksanakan pembelajaran aktivitas jual beli di pasar setempat melalui model belajar pengalaman nyata dengan berpedoman pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. Obsevasi atau pengamatan dilakukan oleh tiga orang observer terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti. Observasi ini menggunakan pedoman observasi. Refleksi dilakukan bersama observer dan dilakukan setelah proses pembelajaran siklus pertama berakhir. Hasil refleksi adalah ditemukannya masalah yang menjadi penghambat peningkatan hasil belajar aktivitas jual beli di pasar setempat melalui model pengalaman nyata.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan tes hasil belajar. “Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan terhadap suatu hal secara langsung, teliti, dan sistematis,” (Nurgiyantoro, 2001:57) atau “pengamatan dengan tujuan tertentu,” (Wardani, 2002:2.17). Berdasarkan kedua pendapat tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung, teliti, dan sistematis untuk mencapai tujuan tertentu.

Teknik tes yang digunakan adalah tes yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Tes tersebut merupakan pelaksanaan evaluasi proses yaitu evaluasi yang dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Proses pembelajaran dan evaluasi proses berlangsung secara simultan. Ketika itu, peneliti dapat memberikan motivasi belajar, memberikan bantuan kepada siswa atau kelompok yang mendapatkan kesulitan, dan sekaligus dapat mengecek hasil belajar setiap kelompok.

Data yang digunakan untuk mengukur hasil belajar aktivitas jual beli di pasar setempat melalui model belajar pengalaman nyata adalah data dari hasil tes atau hasil kerjasama kelompok siklus pertama dan siklus kedua. Hasil tes tersebut adalah angka, maka teknik pengolahan data yang digunakan adalah teknik kuantitatif.

Teknik kuantitatif yang peneliti gunakan sebagaimana dilakukan dalam pembelajaran sehari-hari dengan cara sebagai berikut. Pertama, peneliti mencari selisih hasil tes siklus kedua dikurangi hasil tes siklus pertama untuk setiap tugas dari setiap kelompok. Kedua, peneliti mencari selisih hasil tes siklus kedua dikurangi hasil tes siklus pertama untuk seluruh tugas dari setiap kelompok. Selisih hasil tes siklus kedua dikurangi hasil tes siklus pertama merupakan hasil belajar, (Arikunto,1998:84). Apabila terjadi peningkatan hasil belajar aktivitas jual beli berarti hipotesis terbukti. Atau sebaliknya, jika tidak terjadi peningkatan siswa terhadap aktivitas jual beli, berarti hipotesis tidak terbukti. Ketiga, hasil pengolahan pertama dan kedua tersebut diubah ke dalam bentuk diagram batang dan diagram lingkaran. Hal itu dimaksudkan agar dapat dibaca dengan jelas dan mudah.

C. HASIL PENELITIAN

1. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus I

a. Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan siswa diajak berdikusi untuk memahami manfaat mempelajari aktivitas jual beli. Kemudian membentuk kelompok belajar dengan cara setiap siswa berhitung dari satu sampai dengan lima, kemudian kembali ke satu lagi sehingga terbentuk lima kelompok yang masing- masing beranggotakan tujuh atau delapan orang siswa. Setiap kelompok ditugasi untuk membentuk susunan organisasi siapa yang menjadi ketua, sekretaris, dan anggota.

b. Kegiatan Inti
Dalam pembelajaran inti siswa secara berkelompok ditugasi untuk mengamati ciri-ciri pasar tradisional setempat; mengamati proses terjadinya transaksi beras, lauk-pauk, dan sayur mayur; mengamati cara bersaing yang sehat; dan mengamati beberapa jenis makanan yang bahan dasarnya dari beras, lauk-pauk, dan sayur mayur.
Hasil pengamatan tersebut didiskusikan untuk menjawab permasalahan yang tertulis dalam indikator sebagai berikut.

  1. Tuliskan ciri-ciri pasar tradisional setempat terutama pedagang dan pembeli beras, lauk-pauk, dan sayur mayur serta jenis-jenisnya.
  2. Peragakan proses terjadinya transaksi beras, lauk-pauk, dan sayur mayur.
  3. Jelaskan cara bersaing sehat dalam jual beli beras, lauk-pauk, dan sayur mayur.
  4. Berikan contoh beberapa jenis makanan yang bahan bakunya dari beras, lauk-pauk, dan sayur mayur.

Ketika siswa melakukan kedua kegiatan di atas guru memberikan penilaian realistik dengan cara memberikan motivasi dan memberikan bantuan kepada setiap siswa yang membutuhkannya dan sekaligus memberikan penilaian kepada setiap kelompok.

Hasil diskusi tersebut dipresentasikan dan diperagakan sesuai dengan tugas di atas dan kelompok lain ditugasi untuk memberikan tanggapan, pertanyaan, atau menambahkan jawabannya, dan menilainya. Dalam presentasi tersebut dapat dilihat kegiatan nyata siswa berikut hasil belajarnya. Dengan cara demikian setiap siswa melakukan kegiatan nyata seperi yang dilakukan oleh para pedagang dalam melakukan kegiatan yang sebenarnya.

c. Kegiatan Penutup
Setelah siswa menyelesaikan kegiatan-kegiatan di atas, dilanjutkan dengan melakukan refleksi. Setiap siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan kesan, pesan, saran, dan sebagainya tentang kemanfaatan dalam kehidupan nyata seperti yang dibahas pada kegiatan pendahuluan. Masukan-masukan dari siswa dicatat pada RPP dan dijadikan dasar untuk menyusun RPP siklus kedua.

2. Deskripsi Hasil Refleksi Siklus I

a. Hasil Refleksi

Refleksi dilakukan bersama-sama dengan observer dengan tujuan untuk menemukan kegiatan-kegiatan yang perlu diperbaiki serta menetapkan solusinya. Hasil refleksi terhadap kegiatan pembelajaran pada siklus pertama diperoleh dua indikator yang belum dapat dikuasai oleh siswa. Kedua indikator tersebut adalah (1) memperagakan proses terjadinya transaksi dan (2) menjelaskan cara bersaing secara sehat dalam jual beli.

Bila dilihat dari latar belakang pekerjaan orang tua mereka adalah petani. Sehingga wajar bila mereka belum memiliki pengalaman nyata dalam jual-menjual dan proses transaksi. Kedua kompetensi tersebut merupakan pengalaman baru dan menjadi masalah yang harus diatasi. Oleh karena itu, mereka harus diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk melakukan pengamatan secara langsung.

b. Solusi yang Digunakan

Solusi yang digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran memperagakan proses terjadinya transaksi dan menjelaskan cara bersaing secara sehat dalam jual beli adalah sebagai berikut. Pertama, dalam melakukan pengamatan setiap kelompok dibagi dua kelompok kecil yang beranggotakan 3-4 orang siswa. Kelompok kecil pertama bertugas mengamati proses terjadinya transaksi dan kelompok kecil kedua bertugas mengamati cara bersaing secara sehat. Kedua, setiap kelompok dibekali dengan instrumen pengamatan agar mereka dapat mengamati proses terjadinya transaksi dan cara bersaing secara sehat secara rinci. Ketiga, setiap kelompok kecil diberikan kebebasan untuk menentukan pengamatan di mana saja dan waktu yang seluas-luasnya agar mereka dapat menghayatinya.

c. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran aktivitas jual beli pada siklus kedua dilakukan perbaikan-perbaikan sebagai berikut. Pertama, dalam melakukan pengamatan setiap kelompok dibagi dua kelompok kecil yang beranggotakan 3-4 orang siswa yang masing-masing mendapatkan tugas yang berbeda yaitu kelompok kecil pertama bertugas mengamati proses terjadinya transaksi dan kelompok kecil kedua bertugas mengamati cara bersaing secara sehat.

Kedua, setiap kelompok dibekali dengan instrumen pengamatan agar mereka dapat mengamati proses terjadinya transaksi dan cara bersaing secara sehat secara rinci. Ketiga, setiap kelompok kecil diberikan kebebasan untuk menentukan pengamatan di mana saja dan waktu yang seluas-luasnya agar mereka dapat menghayatinya. Kesimpulan tersebut akan direalisasikan dalam RPP siklus kedua.

3. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus II

a. Kegiatan Pendahuluan

Dalam kegiatan pendahuluan siswa diajak berdikusi untuk memahami tugas-tugas yang harus dilakukan sebagai berikut. Pertama, setiap kelompok dibagi dua kelompok kecil yang beranggotakan 3-4 orang siswa yang masing-masing mendapatkan tugas yang berbeda yaitu kelompok kecil pertama bertugas mengamati proses terjadinya transaksi dan kelompok kecil kedua bertugas mengamati cara bersaing secara sehat. Dalam melakukan pengamatan kedua kelompok tersebut membawa instrumen dan dipersilakan melakukan pengamatan di mana saja dengan waktu yang luas.

b. Kegiatan Inti

Dalam pembelajaran inti siswa secara berkelompok ditugasi untuk mengamati proses terjadinya transaksi dan melakukan wawancara dengan pedagang yang laris dan yang tidak laris untuk mengetahui tentang cara bersaing yang sehat. Semua itu dilakukan siswa dengan menggunakan instrumen yang telah disiapkan oleh peneliti. Hasil pengamatan tersebut didiskusikan untuk untuk mencapai indikator yang belum dikuasai yaitu memperagakan proses terjadinya transaksi dan cara bersaing sehat dalam jual beli.

Ketika siswa melakukan kedua kegiatan di atas guru memberikan penilaian realistik dengan cara memberikan motivasi dan memberikan bantuan kepada setiap siswa yang membutuhkannya dan sekaligus memberikan penilaian kepada setiap kelompok. Hasil diskusi tersebut dipresentasikan dan diperagakan sesuai dengan tugas di atas dan kelompok lain ditugasi untuk memberikan tanggapan, pertanyaan, atau menambahkan jawabannya, dan menilainya. Dalam presentasi tersebut dapat dilihat kegiatan nyata siswa berikut hasil belajarnya. Dengan cara demikian setiap siswa melakukan kegiatan nyata seperi yang dilakukan oleh para pedagang dalam melakukan kegiatan yang sebenarnya.

c. Kegiatan Penutup

Setelah siswa menyelesaikan kegiatan-kegiatan di atas, dilanjutkan dengan melakukan refleksi. Setiap siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan kesan, pesan, saran, dan sebagainya tentang kemanfaatan dalam kehidupan nyata seperti yang dibahas pada kegiatan pendahuluan.

4. Deskripsi Hasil Refleksi Siklus II

Refleksi sikllus kedua dilakukan bersama-sama dengan observer dengan tujuan untuk menemukan kegiatan-kegiatan yang perlu diperbaiki serta menetapkan solusinya. Hasil refleksi terhadap kegiatan pembelajaran pada siklus kedua tidak diperoleh kegagalan baik dalam proses pembelajaran maupun dalam hasil belajar. Seluruh indikator dapat dikuasai oleh siswa dan penelitian dinyatakan selesai.

D. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Data yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar aktivitas jual beli di pasar setempat melalui model belajar pengalaman nyata adalah data dari hasil kerjasama atau hasil tes setiap kelompok pada siklus pertama dan siklus kedua. Data-data tersebut berupa angka, karena itu teknik pengolahan data yang digunakannya adalah teknik kuantitatif.

Teknik kuantitatif yang biasa digunakan oleh peneliti dalam pembelajaran sehari-hari adalah mencari selisih hasil belajar atau hasil tes siklus kedua dengan siklus pertama. Dengan kata lain, hasil belajar siklus kedua dikurangi hasil belajar pertama. Adapun selisih-selisih yang dicari adalah sebagai berikut. Pertama, peneliti mencari selisih ketercapaian setiap tugas siklus kedua dikurangi siklus pertama. Kedua, peneliti mencari selisih ketercapaian seluruh tugas dari setiap kelompok siklus kedua dikurangi siklus pertama. Ketiga, hasil pengolahan data tersebut diubah ke dalam bentuk diagram batang dan diagram lingkaran.

1. Ketercapaian Setiap Tugas
Berdasarkan penjelasan di atas, berikut ini peneliti mengemukakan data ketercapaian setiap tugas dari setiap kelompok pada siklus pertama dengan kedua. pada tabel di bawah ini.

Tabel 1
Skor Ketercapaian Tugas

Selisih ketercapaian tugas nomor 1 adalah 100 – 74 = 26. Selisih ketercapaian tugas nomor 2 adalah 100 – 48 = 52. Selisih ketercapaian tugas nomor 3 adalah 100 –55 = 45. Selisih ketercapaian tugas nomor 4 adalah 100 – 83 = 17.

Berdasarkan selisih ketercapaian tugas tersebut diperoleh data peningkatan hasil belajar sebagai berikut. Telah terjadi peningkatan hasil belajar pada tugas nomor 1 = 26, tugas nomor 2 = 52, tugas nomor 3 = 45, dan tugas nomor 4 = 17. Peningkatan hasil belajar tertinggi pada pencapaian tugas nomor 2 yaitu 52. Sedangkan peningkatan hasil belajar terendah pada pencapaian tugas nomor 4 yaitu 17. Adapun rata-rata ketercapaian tugas adalah 100 – 65 = 35.

Berikut ini peneliti sajikan peningkatan ketercapaian tugas yang merupakan peningkatan hasil belajar dalam bentuk diagram batang sebagai berikut.

Diagram 1

Peningkatan Ketercapaian Setiap Tugas / Hasil Belajar
2. Ketercapaian Seluruh Tugas

Berdasarkan tabel di atas, berikut ini peneliti mengemukakan data ketercapaian seluruh tugas dari setiap kelompok pada siklus kesatu dengan kedua sebagai berikut. Ketercapaian hasil belajar kelompok I adalah 100-70= 30; kelompok II adalah 100-64= 36; kelompok III adalah 100-61= 39; kelompok IV adalah 100-65= 35; dan kelompok V adalah 100-65= 35.
Ketercapaian hasil belajar tertinggi adalah kelompok III yaitu 39. Sedangkan ketercapaian hasil belajar terkecil adalah kelompok I yaitu 30. Ketercapaian rata-rata hasil belajar setiap kelompok adalah 35. Data tersebut menunjukkan telah terjadi peningkatan hasil belajar aktivitas jual beli di pasar setempat.

Diagram 2
Ketercapaian Seluruh Tugas Setiap Kelompok

Selanjutnya peneliti akan mencari perbandingan ketercapaian seluruh tugas sebagai berikut. Perbandingan ketercapaian tugas nomor 1:2:3:4 adalah 26:52:45:17 = 140. Selanjutnya masing-masing angka ketercapaian setiap tugas tersebut dibagi 140 lalu dikalikan 100. Hasil pengolahan angka-angka tersebut merupakan perbandingan ketercapaian tugas nomor 1: 2: 3: 4 adalah 19: 37: 32: 12 =100.

Berdasarkan data perbandingan tersebut berikut ini peneliti menyajikan diagram lingkaran sebagai berikut.

Diagram 3
Perbandingan Ketercapaian Setiap Tugas
Perbandingan ketercapaian tugas atau hasil belajar kelompok I: II: III: IV: V adalah 30: 36: 39: 35: 35 = 175. Selanjutnya, masing-masing angka ketercapaian setiap tugas tersebut dibagi 175 lalu dikalikan 100. Hasilnya merupakan perbandingan ketercapaian tugas atau hasil belajar kelompok I: II: III: IV: V adalah 17: 21: 22: 20:20 =100.

Berdasarkan data perbandingan tersebut berikut ini peneliti menyajikan diagram lingkaran sebagai berikut

Diagram 4
Perbandingan Hasil Belajar Setiap Kelompok

Perbandingan ketercapaian tugas atau hasil belajar kelompok I, II, III, IV, dan V menunjukkan peningkatan hasil belajar yang merata.

E. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Hasil observasi ditemukan beberapa peningkatan keterampilan siswa sebagai berikut. Telah terjadi peningkatan keberanian dan keterampilan bertanya jawab ketika mereka ditugasi untuk melakukan wawancara untuk mencari data cara bersaing secara sehat. Telah terjadi peningkatan keterampilan mengobservasi ketika mereka ditugasi untuk mencari data proses transaksi jual beli. Peningkatan-peningkatan tersebut merupakan peningkatan hasil belajar.

Hasil pengolahan data kuantitatif menunjukkan telah terjadi peningkatan hasil belajar sebagai berikut. Peningkatan hasil belajar tugas 1 adalah 26%. Peningkatan hasil belajar tugas 2 adalah 52%. Peningkatan hasil belajar tugas 3 adalah 45%. Sedangkan peningkatan hasil belajar tugas 4 adalah 17%.

Telah terjadi peningkatan hasil belajar setiap kelompok sebagai berikut. Peningkatan hasil belajar kelompok I adalah 30%. Peningkatan hasil belajar kelompok II adalah 36%. Peningkatan hasil belajar kelompok III adalah 39%. Peningkatan hasil belajar kelompok IV adalah 35%. Peningkatan hasil belajar kelompok V adalah 35%. Sedangkan peningkatan rata-rata hasil belajar setiap tugas adalah 35% dan peningkatan rata-rata hasil belajar setiap kelompok adalah 35%.

Berdasarkan hasil observasi dan pengolahan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran aktivitas jual beli di pasar setempat melalui model pengalaman nyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Ini berarti hipotesis terbukti.

2. Saran

a. Teman-teman kepala sekolah dan teman-teman guru di kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor agar belajar secara tekun dan ulet serta dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai pedoman penelitian atau penulisan laporan dan dijadikan motivasi agar mampu melakukan penelitian tindakan kelas.

b. Para pengawas sekolah di kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor agar memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mendiseminasikan hasil penelitian ini dalam berbagai kegiatan ilmiah.

c. Para kepala seksi dan UPTD di kecamatan-kecamatan kabupaten Bogor agar mau mendorong teman kepala sekolah dan guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas, demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Bogor.

DAFTAR RUJUKAN
Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Pedoman Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: BSNP
Departemen Pendidikan Nasional. (2002a). Kegiatan Belajar Mengajar. Jakarta: Puskur.
Departemen Pendidikan Nasional. (2002b). Pendekatan Kontekstual. Depdiknas: Direktorat PLP.
Departemen Pendidikan Nasional. (2003.a). Standar Kompetensi Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta: Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional. (2003.b). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Pembelajaran dan pengajaran Kontekstual. Depdiknas: Direktorat PLP
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24. Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan SI dan SKL. Jakarta: Depdiknas.


Nu Peryogi, insya Allah dibantos

email :rosid.suhendar@yahoo.co.id

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s